Menikmati Kesempurnaan yang Tak Pernah Ada

Judul Buku : Mannequin of Dharma
Pengarang : Roro Syin
Penerbit : www.bookoopedia.com /www.bisnis2030.com
Terbit : Februari 2009
Hal : 336 hal.
Harga : Rp. 72.000,-

Sinopsis
Adalah Dharma, Nadya, Cindy, dan Kinar. Empat perempuan muda metropolitan yang gamang akan kehidupan cinta mereka. Lewat kacamata Dharma, seorang copy writer di sebuah biro iklan, sebuah persahabatan digambarkan sebagai satu bentuk penyelesaian masalah-masalah orang per orang di dalamnya. Dharma bukan perempuan muda yang ideal menurutnya, sehingga dia rela bertahun-tahun menanti kepastian cinta seorang Bismarck. Dalam kesehariannya yang sibuk, dia juga harus “membelah diri” untuk ikut mengurusi permasalahan Cindy yang dihamili oleh pacarnya yang seorang junkies, Kinar yang hendak mempertahankan hubungannya dengan seseorang yang hendak menikah karena hutang budi, dan Nadya yang bolak-balik Jakarta – Bali hanya demi orang mancanegara yang dianggapnya punya kelebihan materi dibandingkan pria Indonesia.

Spontanitas
Roro Syin menuliskan novel ini dengan ciri khas penulis muda; spontanitas. Bisa kelihatan dia selalu bisa bercerita dari A sampai Z untuk memberi penekanan pada satu hal saja. Contohnya dia menuliskan dua buah contoh perempuan yang diselingkuhi hanya untuk menegaskan betapa sakitnya perasaan Kinar yang diselingkuhi oleh pasangannya. Hal ini bisa menimbulkan bias pada pembacaan alur cerita.
Hal yang menunjukkan spontanitas penulisan nampak pada saat Dharma dan Bismarck atau Brown Sugar sedang berkencan. Banyak sekali ditemukan kata-kata bercetak miring yang menggambarkan perasaan seorang Dharma terhadap suasana saat itu. Spontanitas juga bisa disalahartikan sebagai kekurangsabaran untuk menuliskan secara wajar, sehingga pembaca bisa menikmati suasana yang dirasakan karakter-karakter dalam novel itu.

Penokohan
Roro Syin membuka novel ini dengan kisah sedih seorang Nadya. Anak pertama dari seorang pelacur yang hidup di tengah-tengah perkampungan besar bernama Jakarta. Penderitaan Nadya sangat kuat untuk bisa dieksplorasi lebih menjadi novel yang indah. Di bagian tengah, dia juga menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang dialami oleh Cindy kecil yang diperkosa oleh pamannya sendiri, yang sering dipanggilnya Bang Rambo itu.
Sebetulnya, jika menelaah karakter-karakter Nadya dan Cindy, maka novel ini bisa jadi sangat kuat. Dengan pengalaman traumatik yang dibangun secara kuat, seharusnya kedua karakter ini akan bisa berkembang menjadi pribadi yang tangguh atau justru akhirnya menyerah kalah.
Dibandingkan dengan karakter Dharma maupun Kinar, kedua tokoh yang diceritakan di awal novel justru menarik untuk dikembangkan lebih lanjut. Dharma – yang notabene menjadi bingkai cerita – sebenarnya lebih kepada kegelisahan secara fisik. Lihat bagaimana dia punya persoalan dengan makanan, dengan – maaf – ukuran payudara, dan dengan bentuk tubuhnya yang jauh dari ideal seperti sebentuk mannequin. Kinar pun demikian. Entah kenapa Kinar tiba-tiba sepertinya susah mendapatkan pacar atau pasangan yang benar-benar single.
Tapi, mungkin Roro punya alasan lain dengan “menyublimkan” karakter-karakter yang kuat seperti Nadya dan Cindy pada karakter Dharma dan percintaannya dengan Bismarck. Dan bisa jadi Kinar hanya bumbu pelengkap belaka yang meramaikan kisah persahabatan mereka.
Satu lagi, salah satu karakter dari novel ini mengingatkan saya pada kisah AADC karena ada seorang yang selalu “telmi” dalam cerita-cerita antara mereka berempat. Meskipun tidak serta merta sama, karena karakter tersebut lebih cenderung untuk “cuek” dan lebih peduli pada dirinya sendiri dibanding untuk “update” pada hal-hal di luar itu.
Jika dibandingkan dengan Sex and The City, jelas karakter-karakter dalam novel ini punya permasalahan lebih pelik dibandingkan sekedar seks, seks, dan seks. Permasalahan seperti alkohol, narkoba, seks bebas, pencarian jati diri, penantian cinta sejati, dan juga aborsi jauh lebih rumit digambarkan oleh Roro.

Penceritaan
Seperti tadi sempat disinggung di atas, alur cerita sebenarnya yaitu kisah asmara Dharma dan Bismarck terjaga dari awal sampai akhir. Namun, penceritaan antar karakter seperti dari Nadya di halaman awal, Cindy di halaman-halaman setelahnya, lalu berubah ke Dharma di halaman selanjutnya kurang mulus. Akibatnya, ada keterkejutan karena seolah-olah karakternya berubah nama.
Persoalan “kantor” yang digambarkan untuk mendapatkan kesan sibuknya seorang Dharma terasa begitu ringan. Hal yang tiba-tiba ada seperti kesibukan pitching dan bagaimana membuat “copy” sebuah radio advertisement sungguh terkesan sebagai tambahan belaka. Demikian juga dengan perasaan-perasaan Dharma yang tercurah pada kalimat-kalimat puitis.
Andai saja Roro bersabar untuk mengolah hal-hal artifisial dan menempatkannya pada emosi karakternya, bisa jadi kedalaman karakter Dharma yang menjadi sentral cerita dapat dibangun dengan baik. Dengan demikian esensi pertanyaan Dharma pribadi soal apakah menjadi seorang perempuan itu harus terlihat begitu sempurna seperti boneka pajangan itu dapat ditancapkan kuat pada pembaca.

Kekuatan
Hal yang menjadi kekuatan sebenarnya dalam novel ini adalah pada gaya bahasanya yang fresh. Celetukan-celetukan spontan, dan kelucuan-kelucuan emosi antar karakter dalam novel ini rasanya cukup mengaburkan kelemahan-kelemahan karakterisasi mereka.
Roro juga cukup rajin untuk memberikan tanda-tanda yang membantu pembaca untuk bisa membedakan mana bahasa mesin (seperti “message delivered”, gambar ampop, dll) dan mana bahasa percakapan. Dengan demikian, pembaca bisa beradaptasi dengan gaya penceritaan yang disuguhkan Roro ini.
Dan sekali lagi, spontanitas adalah hal yang paling menonjol dari seorang Roro Syin. Mudah-mudahan, novel ini tidak berhenti sampai ketika Dharma menerima cinta Bismarck dan sebaliknya, tetapi akan berlanjut pada cerita-cerita yang lebih kuat lagi. Sebab sebagai pembaca, saya masih penasaran akan nasib Nadya dan Cindy. Mereka adalah gambaran perempuan tangguh yang digilas jaman dan kekejaman ibukota. Karakter mereka sungguh sayang untuk dihabiskan begitu saja dalam novel ini. Dan saya percaya, dengan spontanitasnya Roro pasti akan sanggup menghidupkan karakter seperti mereka dalam novel-novelnya yang lain.
2009
Diposkan oleh Dedy Tri Riyadi di 20:53

 

By : Roro Syin

Aku baru mendapat sebuah surat. Surat yang tanpa ku baca sudah dapat tersirat. Surat kebebasanku setelah sekian lama menjadi babu permanen, pengasuh tanpa jam istirahat. Sekaligus pelayan “FULL SERVICE, GRATIS!!!”.
Apakah anda dan dia tahu saya di bayar dengan pahala, gaji bulanan yang sudah di potong tagihan dan pajak. Yang sisanya hanya cukup untuk makan di restoran siap saji dengan anak-anak. Belum termasuk bayar karcis parkir.
Apakah Anda dan dia merasa bekerja selalu OVER TIME?. Biar saya jabarkan saya harus bangun jam lima pagi untuk menyiapkan sarapan untuk dia beserta anak-anaknya. Dengan dua menu sekaligus nasi goring, telor ceplok setengah matang atau roti yang diisi dengan bermacam-macam vitamin, kalsium, protein, karbohidrat dan lemak. Harus menyiapkan handuk dan baju yang harus rapih tidak boleh kusut. Dan begitu pula anak-anaknya. Harus teliti dengan buku-buku mata pelajaran yang mereka harus bawa. Setelah itu saya harus membersihkan rumah, menyapu, mengepel, mencuci, memasak untuk siang dan malam. Sesekali merawat orang tuanya. Malam hari saya harus beres-beres semuanya. Lalu memunguti abu rokoknya yang hinggap di sofa ruang keluarga. Membatu mengerjakan PR anak-anaknya. Terakhir saya juga harus tetap melayaninya. Meskipun gayanya itu-itu saja.
Saya tahu isi surat itu hanya sebuah rekayasa. Setelah saya melayaninya selama 15 tahun lebih. Dia bilang dia tidak puas dengan saya. Dan selama 2 tahun dia pun tidur dengan istri lainnya.
Saya marah karena tidak ikhlas. Saya marah karena harus rela. Saya kecewa karena selalu diiming-imingi oleh kenikmatan surga. Padahal setiap hari, saya menghadapi neraka. Dan saya selalu melihat muka anak-anaknya seperti pewaris tahta tabiatnya. Itu yang membuat saya, selalu melampiaskan kebencian saya pada nak-anaknya. Mereka lebih lemah dari saya. Karena surga di telapak kaki saya. Saya pikir untuk apa mereka lama-lama hidup di dunia yang hanya membuat dia tersiksa melihat ibunya dipukuli setiap hari. Lebih baik mereka merasakan surga yang sebenarnya. Saya hanya ingin membuat anak-anak saya bahagia.
Dan ketika saya masuk ruangan yang dipenuhi oleh pengacara ternama, hakim ketua, wartawan ibukota. Hanya sebuah alasan yang membuat saya gila dan tak masuk akal mengapa saya di pecat dari status istrinya. “SAYA MENALAK ISTRI SAYA, KARENA DIA GALAK!!! PAK HAKIM TOLONG KABULI PERMINTAAN SAYA. SAYA SUDAH TIDAK TAHAN HIDUP SERUMAH DAN SERANJANG DENGAN ISTRI YANG MEMPUNYAI PERANGAI YANG TIDAK SEHAT JIWANYA!!!!”
TOK!!!
Ketua hakim mengetok palunya. Rona bahagia keluar dari wajahnya. Dan tak hanya itu seketika tanduk serta cula keluar dari wajahnya. Lalu dia mendekati saya dan membisikkan kata-kata yang begitu romantis dan sadis.
“TENANG NING!!! Saya tidak akan menelantarkanmu. Tapi saya kan merawatmu di Rumah Sakit Jiwa!!! Saya akan bawakan kamu mainan masak-masakan dan rumah-rumahan yang indah. Dimana kamu bebas menatanya serta menghancurkannya!!!”

By: Roro Syin

Saya bosan di gagahi oleh berbagai macam jenis penis. Mereka datang hanya karena kenikmatan ranjang. Karena mereka pecundang yang bermata keranjang. Katanya mereka berhak membuat saya mengangkang tapi ditagih uang mereka membalas dengan hutang.

Setiap malam saya diwajibkan lepas kutang dan harus bergoyang. Semakin goyangan saya mengguncang mereka semakin girang. Saya lelah diperlakukan sebagai budak nafsu ranjang. Seakan-akan saya diciptakan hanya untuk berpose menantang. Dari saya kecil hingga kini saya matang, saya jika dikeluarkan saat hari menjelang petang. Dan merebahkan lelah saat siang.

Bayangkan untuk ukuran karier, saya sekarang sudah dalam tingkat senior di gang. Saya tidak perlu membawa surat lamaran kerja, surat kelakuan baik dari rukun warga setempat. Karena saya juga di gilir pak camat.

Saya memang bukan Sarah Azhari, tapi saya berani untuk tampil buka aurat dan bugil. Hingga mungkin bukan hanya mata tapi otot-otot pria ikutan menggigil. Jadi karier saya lumayan melesat cepat. Dan selalu mendapat hasil yang akurat dapat memuaskan nafsu syahwat.

Tapi setelah saya malang melintang di dunia perzinahan ini. Saya pikir cukup sudah dizinahi pria-pria. Karena saya pikir sudah saatnya saya dinikahi. Jadi seorang istri meskipun saya harus punya anak tiri. Atau minimal di kawin siri.

Karena saya yakin, meskipun saya buka aurat. Tapi otak saya bisa bermanfaat. Karena saya ingin tobat. Bukan lantaran saya sering diiming-imingi para kaum laknat yang suka menjual rayuan seperangkat sholat dan cincin dua puluh empat karat. Ditambah dengan satu krat obat kuat.

Saya tak ingin ketika saya mati nanti, nisan saya digandoli binti BANGSAT. Jadi inilah surat pengundur dirian saya sebagai wanita laknat. Demikian Tante Drajat, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Dan lanjutkanlah pencarian calon pelacur yang sederajat.

Telah terbit buku gue….cihuyyyy!!!!

Cihuuuuuuyyyyyy!!!! Buku gue mudah-mudahan bisa terbit bulan ini. Covernya udah jadi (agak suram sih). Udah diedit juga isinya. Tinggal sedikit penambahan. Sinopsis ada sedikit pemugaran. Hati tuh rasanya berdebar-debar. Kayak perempuan yang lagi hamil. Pas tau jenis kelamin anaknnya. Surat-surat hampir beres setelah ketunda beberapa lama. Gue sih gak berharap muluk-muluk. Yang penting dapet sambutan positif aja dari pembaca. Namanya juga pemula nggak selalu sempurna. Semoga bisa oke di buku gue yang kedua nanti.

Deg-degan…….

<p

Aku kini merasa betapa sombongnya aku selama ini sebagai seorang copywriter di sebuah advertising agency. Kenapa?

Mari aku ceritakan kronologisnya.

Dulu aku merasa kerja di advertising agency adalah tempat kerja yang paling mewah, paling top, paling kreatif sedunia. Bisa bergaya luar biasa. Brainstroming di cafe-cafe, bawa laptop, pake PDA handphone generasi ketiga. Baju stylish semau gue. Dengerin Ipod. Sok nyari inspirasi dengan kamera digital.Presentasi bawa-bawa board, bikin stilomatic, ikut pitching ina itu, syuting, recording, editing. Blah…blah.

FAKE!!!

Ternyata tidak.

Ketika lebaran menyapa, semua keluarga berkumpul. Begitu pula teman-temanku. Ditanya ini itu akhirnya aku punya kesimpulan sendiri. Kok sombong banget sih gue cuma kerja di agency aja kok. tetep kerja jadi kuli, dibayar cuma tanggal 28. Kalo tembus picthingan cuma di bilang makasih dan nantikan promosi. tanggal 15 ATM udah seret. Kok sombong?!!!.

Malah ada yang lebih parah lagi sombongnya. Ke kantor naik mobil tapi kreditan, belanja tinggal gesek tapi hasil utangan, makan di cafe atau resto kalo baru awal gajian, bawa laptop tapi milik kantor, make PDA atau handphone bisa wifi tapi beli pulsa masih utangan. Kok sombong?!!!.

Makanya…sekarang aku mikir sampai kaapan aku kerja sama orang, dimarahin klien, dimarahin CD. Cukup cari duit yang banyak, beli sebidang tanah di desa. kalo nggak bisa garap kebun atau sawah tinggal disewakan. InsyaAlloh kalo panen berhasil bisa naek haji. Atau bikin kacang oven tanpa merek bisa beli mobil chash without carry.

Ayo kita jadi pengusaha…..ayo kita berusaha!!! Nggak akan kaya kalo hanya jadi kuli orang. Gaya itu bukan patokan kesuksesan. Tapi digit tabungan yang penting.

Suatu hari ketika keponakanku yang berumur 4 tahun duduk di sampingku dan bertanya tentang sesuatu yang membuatku berpikir yang selama ini mungkin tak terpikirkan oleh orang dewasa.

anak : “Tante tau Tuhan itu dimana? aku bingung nih?”

Aku  : “Lho kok bisa? kenapa emangnya?”

Anak : “Iya….waktu aku ngaji kemaren sama pak ustad bilang Tuhan itu ada dimana-mana, Tuhan bisa melihat kita!!! kata bu guru Tuhan itu ada di atas, kata mama Tuhan itu ada disamping kita….Jadi Tuhan itu sakti yah? Trus dia tinggal dimana?”

Aku : “Di Benak kita!!!”

Anak : “Di dalam tubuh aku?”

Aku : “Bukan! Kamu percaya ada Tuhan?”

Anak : “Percaya soalnya kalo enggak masuk neraka?”

Aku : “Kamu harus percaya bahwa Tuhan itu ada, Karena kalo nggak ada Tuhan pasti nggak akan ada kita!!! Kita mungkin gak bisa melihat Tuhan seperti kamu melihat tante, mama, papa, bu guru…tapi kamu bisa melihat awan, binatang dan tanaman dan kamu bisa meilhat keindahannya setiap hari itu adalah kebesaraan Tuhan!!! Kalo kamu percaya Tuhan maka dia sudah ada di benak kita, jangan percaya pada Tuhan karena takut masuk neraka, tapi percaya Tuhan karena kamu benar-benar percaya akan kebesaraannya!!!”

Anak : “Ouh berarti Tuhan itu lebih sakti dari transformer yah?”

Aku : “Gak akan ada transformer kalo gak ada Tuhan!!!”

Anak : “Mhmmmm..”

Aku : “Gak ada tante dan kamu kalo gak ada Tuhan?”

Anak : “Owhhhhh…..”

Tapi aku tahu dalam otak keponakanku masih banyak pertanyaan tentang Tuhan dan yang lainnya. Ketika segala sesuatu dicari dengan logikanya.  Dan kadang cara berpikir anak-anak itu membuat kita merasa apa yang kita tahu belum seutuhnya.

Dear All,

Wanita katanya punya tugas mulia saat diciptakan. Menemani kaum Adam dan melahirkan cucu Adam. Menjadi Seorang ibu dan seorang istri adalah paket hemat yang dipercaya jalan mulus menuju surga. Bahwa sepintar apapun wanita, sehebat apapun wanita tetap akan berakhir di “RANJANG, DI TERJANG, NGANGKANG dan MENJERANG makanan”. Dapur adalah base camp para wanita.

Ibu Kartini memang berjuang untuk kesetaraan gender, tapi tugas wanita kini bergeser bahwa raihlah pendidikan tinggi, cari kerja, dapet suami, menikah dan punya anak. Jadi istri yang baik dan ibu yang bijak sana. Hidup bahagia selamanya. Oke! bagi saya pendapat tersebut seperti Cinderela abad 21.

Kita tahu bahwa kenyataan dalam kehidupan kadang tak semulus buku cerita. Tapi itu mimpi itu wajib dan sah jika terwujud. Bagaimana jika ternyata tidak demikian adanya. Bukankah kita harus punya rencana ke dua dalam hidup?.

Oke, sebelumnya saya sering menganalisa wanita-wanita yang akan menuju jenjang pernikahan. Para wanita sibuk memikirkan undangan, foto pra wedding di kebon, di pantai. Yah menurut saya itu sah. Narsis di pesta sendiri. Terobsesi dengan gaun atau kebaya pernikahan yang bagus di gunakan sampai bela-belain suntik kurus, mutihin badan dengan luluran, maskeran sampai pingitan biar di hari pernikahan terlihat manglingi atau muka keputihan. Make-up harus yang spesial, saling menyatukan adat, catering dengan 8 gubuk dan tak terlupa kambing guling. Udang teman dari jaman TK, SD, SMP, SMU, KULIAH, KANTOR mamtan pacar kalo perlu. Seakan satu jagad harus ikut merayakan hari pernikahan itu. Bulan madu ke Bali. Dua minggu kemudian beli alat tes kehamilan.  Itu sekali lagi sah. Karena yang bayar bukan saya ataupun negara.

Tapi bagaimana jika hal di atas kita sederhanakan dan mencoba saling berpikir jangka panjang. Menikah adalah sesuatu yang sakral. Pesannya adalah janji kedua mempelai berjanji di depan Tuhan dan negara untuk melegalkan dan menghalalkan pernikahan tersebut. Dan memaknai setiap ayat-ayat yang ada di buku nikah bukan hanya sebagai pajangan. Menikah adalah penyatuan dua kepala dari dua budaya, sifat, pemikiran, perasaaan yang berbeda. Dan mungkin di satukan oleh cinta. Tergantung motifnya. Jadi Menikah di KUA sekalipun tetap sah. Bukankah di hari pernikahan itu yang paling utama adalah legalnya hubungan kedua mempelai. Memang banyak yang datang, banyak yang memberikan do’a dan restunya. Tapi yang paling utama adalah do’a dari orang tua dan kedua pasangan itu. Kedua mempelai punya itikad baik dalam menjalani hubungan adalah penerapan dari itikad tersebut. Keseriusan, Cinta, ketulusan, saling pengertian,  saling mengisi, menghormati, menghargai dan  selalu  mau belajar untuk terus mencari sesuatu dari pasangan. Banyak dari pasangan ketika manikah merasa sudah memiliki suaminya dan istrinya hanya sampai di situ saja. Rasanya kita sudah mengenal baik dan tahu segalanya. Dan beberapa bulan, tahun kemudian merasa menyesal telah menikahi pasangan kita, merasa hambar dengan pernikahan mereka. Merasa hasrat dan keromantisan sudah pergi. Padahal kita yang malas mencari selalu ada yang baru di dalam diri manusia yang sampai kapanpun tak kan pernah habis tergali.

Jenjang pacaran memang semua terasa indah mau 10 tahun bersama sekalipun. tapi menikah adalah beda hal. Ada kejenuhan yang harus di tepiskan, ada komunikasi yang tak hanya sekedar sudah makan apa belum?. Ada apa hari ini?. Biasa kerja di kantor!. Dan berakhirlah percakapan antara pasangan. Atau Antara pasangan tidak memberikan ruang untuk diri mereka sendiri. Walaupun kita berhak memiliki pasangan kita namun, mereka tetap mahluk indivual yang menginginkan kebebasan dalam bergerak, berpikir. Perhatian, pasangan harus saling menjaga itu agar tidak berlebih atau berkurang. Karena perhatian di dalam yang kurang atau berlebih akan terlihat jelas.

Manjadi seorang ibu adalah sesuatu yang membanggakan. Rasanya kita merasa komlit sebagai wanita. Tapi jangan lupa Anak adalah sebuah titipan dari Tuhan. Hadiah dari Tuhan. Punya anak memang membahagiakan jika sebagai seorang ibu kita mampu/capable untuk :

1. Mengurus anaknya: Mengurus dari ujung rambut hingga kakinya. Tidak hanya semerta-merta menyerahkan pada pembantu dan baby sitter. Membuat jadwal kapan saat yang tepat untuk makan, tidur, bermain, belajar. Saya percaya setiap sentuhan ibu dan perhatiannya membuat anak merasa aman, nyaman dan perasaan bahagia. Well, Someday kalo kita sakit atau tua nanti kita ingin anak kita mengurus, memperhatikan kita. Maka saat mereka kecil banyaklah habiskan waktu bersama mereka. Jika kerja adalah alasan Anda. Ingat bahwa itu adalah konsekuensi anda dan kewajiban Anda.

2. Dapat mendidiknya

Saya percaya pendidikan pertama dalam dari setiap anak berawal dari ibu. Ibu yang mengajarkannya untuk tersenyum, berbicara, berjalan, mengamati. Berawal dari masa kehamilan jiwa anda dan anak telah menjadi satu paket yang tak terpisahkan. Kita jangan hanya memberi makan, kebutuhan mereka setiap hari. Tapi kita juga mengajarkannya tentang moral, agama, sikap terhadap lingkungan sekitar. Saya yakin, ibu yang cerdas menghasilkan anak yang cerdas. Seorang ibu harus bisa menjawab dengan logika anak. Jangan hanya berkata “STOP”. “TIDAK”. “JANGAN”. “SEKARANG”. “NURUT”, “DOSA”. “MAU MASUK NERAKA”.  “IBU BILANG GAK ARTINYA GAK”. Kita tidak harus mengajarkan kata ancaman, larangan. Kita bisa melarang dengan jawaban yang logis. “Kamu boleh melakukannya tapi….”. “Kamu tidak baik melakukan itu karena….”.

Sudah siapkah Anda menjadi seorang ibu dan istri sekaligus pekerja sekaligus?. Saya yakin wanita pasti bisa. Tapi sudah dapatkah Anda menjawab ketika anak Anda bertanya ” MA….TUHAN ITU BENTUKNYA SEPERTI APA?”…….

Dear All,

Saya menyakini kodrat saya sebagai seorang perempuan. Bahwa suatu hari nanti saya akan dinikahi oleh seorang pria yang mungkin orang yang selama ini saya cintai. Tapi jodoh ada ditangan Tuhan, sebagai hambanya saya hanya berusaha untuk mencari yang terbaik untuk saya dan anak-anak yang akan saya lahirkan ke dunia.

Tapi, dari kecil saya sudah diajarkan oleh ibu saya. Bahwa saya tak diharuskan menikah jika saya memang tak menginginkannya. Jika saya tak yakin dengan kebahagiaan untuk kedepannya. Bagi saya menikah adalah sebuah pilihan. Sesuatu yang lemabaga, ikatan, komitmen yang kamu percayai yang bersifat prisipil dan religius.  Bahwa menikah adalah sebuah pengorbanan dan pilihan menjalani hidup bersama seorang laki-laki yang harus kamu ikuti dan junjung tinggi. Dan ketika suatu saat nanti kita melahirkan seorang anak kita harus siap mendidiknya, mengasuhnya, memberikannya yang terbaik.

Suatu hari nanti mungkin saya akan menikah, tapi kini saya belum memikirkannya. bukan saya pasrah. Namun, saya berusaha untuk mengerti apa itu pernikahan sebenarnya. Pernikahan, bagi saya adalah sebuah saling menyeimbangan, menselarakan kehidupan. Bukan saling mencari kecocokan, tapi membuat sebuah visi dan misi itu berhasil seperti kita membuat perusahaan kecil. Yang kita harus hitung keuntungan dan kerugiannya. Berapa labanya, berapa  prosentase kemajuannya. Dan sanggupkah kita memperluasnya dengan membuka cabang baru. Menikah adalah sebuah bisnis, dimana kita saling menjaga kepercayaan antara partner kita, harus menjaga transparasi, bumbu rahasia, dan kesiapan kita dalam membuat bisnis tersebut “baik dan sehat”.

Karena saya percaya ketika anak-anak saya lahir, tumbuh dan dewasa meraka mencerminkan pernikahan saya dan pasangan saya. Mereka adalah hasil racikan perkawinan itu. Jika perkawinan itu bahagia pastinya anak saya akan merasa nyaman dan “sehat” secara lahir dan bathin. Jika perkawinan saya terlalu banyak intrik atau hambar maka anak saya munkin sehat secara jasmani namun kosong secara batinnya. Ketika saya menikah anak adalah prioritas saya. Yang akan saya asuh dan kembangkan. Anak adalah keberhasilan saya di akhirat maupun di dunia. Maka saya butuh program, planning yang matang.

Banyak dari kawan saya, mereka menikah karena cinta, karena usia, karena status, karena mereka pikir itulah mimpi mereka, ataulah itulah misi mereka dilahirkan ke dunia. Saya memang cinta pasangan saya, usia saya sudah cukup untuk memasuki tahap berikutnya, tapi menikah bukan satu-satunya mimpi saya, saya tidak ingin menikah dan mengerjar pasangan saya karena status. Saya ingin menikah ketika saya sudah yakin dengan pilihan saya.

Saya tidak ingin ketika saya menikah, di lima tahun pernikahan itu kami hanya mebuahkan seorang anak dan mempertanyakan arti pernikahan kami. Pernikahan kami akan terasa hampa. Cinta atau bahagia itu akan habis tanpa adanya sebuah tujuan. Bukan tujuan semu yaitu kebahagian saja. Tapi tujuan itu sudah terbentuk dan bersama bekerja keras membangun, mempertahankan itu dengan baik. Perkawinan ibarat rumah semua bisa berhasil dari sebuah pondasi yang kuat dan tepat.

Kerja sama adalah sebuah usaha untuk membuatnya long lasting. Cinta adalah semen perekatnya. Anak adalah bonus khusus. Berpikirlah untuk lebih logis.  Stop berpikir banyak anak banyak rejeki. Ya! Rejeki itu bisa datang jika kita mencarinya. Tapi banyak anak kalo kita tidak bisa memeberinya yang terbaik maka kita berdosa.

Marilah berpikir secara bijaksana untuk kedepannya. Sebagai wanita saya yakin kita dilahirkan tidak hanya untuk “NGANGKANG”. Kita lahir didunia sebagai manusia sama seperti pria. mereka bisa bekerja, kitapun bisa. Bukan mereka yang mengintimidasi kita, tapi cara berpikir kita yang selalu memberhentikan langkah kita untuk maju. Kita wanita mempunyai kelebihan yaitu multitasking, kita bisa berpikir di lima tempat sekaligus. Sedang mereka hanya bisa fokus pada satu task saja. Makanya, mereka lebih fokus dalam meraih karier mereka. Mereka belum tentu bisa berdandan, masak, bekerja sambil chatting sekaligus. Maka itulah sebabnya wanita bisa menjadi seorang manager dirumahnya.

Dan, saya tidak takut jika suatu hari nanti mungkin saya tidak memilih untuk menikah. Karena saya yakin saya tidak merasa timpang dengan status saya. Saya tidak menikah bukan berarti saya akan kehilangan cinta saya. Sebelum menikah saya masih bisa berkarya sampai nantipun saya akan terus berkaya menikah atau tidak. Saya tidak harus menikah untuk menjadi the best mother. Saya tidak perlu risih untk menjadi perawan tua. Karena saya itu semua adalah mindset saya. Semua ada di otak saya. Apakah jika saya menikah nanti saya pasti bahagia? Adakah yang bisa menjaminnya. Atau sebaliknya jika saya tidak menikah pasti saya bahagia?.

Saya kembalikan semua ada di mindset. Dan saya yakin semua adalah pilihan. Begitu pula  dengan menikah. Itu adalah pilihan!.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.